RAKSAKA NAYAKA

Keluarga Besar Bendesa Mas Gading Wani - Malkangin (Tabanan-Bali)



Riwayat I Gede Wayan Wargi

Thumbnail example

Aum awighnam astu nama çidham.
(Semoga terhindar dari segala halangan dan kutukan)

Wahai semua keturunan I Gede Wayan Wargi!. Aku ingin mencatat kisah ini untuk di kenang selama-lamanya. Dengarkanlah!. Namun semuanya menurut penuturan ayah bundaku sewaktu mereka masih hidup. Bagaimanakah ceritnya?.

Pada tahun içaka 1783 (1861 M.) ayahku seorang jejaka wangsa pra-bali Bendesa Mas Gading Wani, bertempat tinggal di desa Belungbang dan menjadi kaul puri Gede Kerambitan. Setelah beristri, ia mendapat sebutan Bapan Marga.Syahdan meninggallah istrinya tanpa memberi keturunan.

Mengenai ibuku sendiri, ia berasal dari banjar Tista banjar Carik dan menjadi kaula puri Kaleran Tabanan. Ia pernah diperistri oleh I Pemangku Pura Puseh Baleagung Belumbang dengan sebutan Men Nirta. Setelah memperoleh dua orang anak, laki dan perempuan, maka meninggllah I Pemangku tersebut di atas.

Ibuku kini menjadi janda muda dan mempunyai seorang ipar laki-laki, yaitu adik dari mangku dimaksud yang belum mempunyai istri. Dan ipar inilah yang ingin memperistri ibuku, tetapi tidak mendapat sambutan baik dari ibuku. Betapa sakit hatinya ipar ibuku itu!.

Rupanya sudah takdir Tuhan, bahwa ayahku yang duda dan ibuku yang janda, kemudian saling menaruh hati yang selanjutnya menjadi cinta sejati. Dan oleh karena besar hasrat ayahku memperistri ibuku, maka akhirnya kawinlah mereka menurut adat dengan upacara alakadarnya. Akan tetapi semua itu terjadi diluar pengetahuan Baginda Ratu di puri Kaleran. Demikian setelah beberapa lama, ibuku mengandung dan pada hari Jumat wuku Bala, tahun Içaka 1784 (1862 M.) lahirlah aku di siang hari di desa Belumbang sebelah baratdaya pure Puseh Baleagung.

Memang sudah nasib, bahwa aku sejak bayi harus menderita. Baru berumur beberapa bulan, suatu malapetaka menimpa kami sekeluarga. Demikian besar derita ayah bundaku, sehingga siang malam mereka menangisi nasibnya. Siapa gerangan yang menjadi penyebab kesengsaraan itu?. Tidak lain dan tidak bukan ialah ipar ibuku tersebut diatas. Dialah yang mengadu kepada Baginda Ratu di puri Kaleran, bahwa ayahku telah mengambil ibuku secara tidak syah. Diceritakannya, bahwa ibuku sebenarnya belum boleh dikuasai ayahku karena belum di beli, tetapi hanya baru dikawini menurut adat saja. Kalau si anak, jadi aku sendiri, memang sudah menjadi hak ayahku. Demikian besar dendam ipar ibuku itu, sehingga berusaha terus untuk merusak perkawinan ayah bundaku yang tentunya akan membuat aku sendiri turut sengsara. Itulah tujuannya mengapa dia sampai menghadap Tuanku di puri Kaleran.

Maka seketika itu juga dikirim utusan dari puri Kaleran ke desa Belumbang. Seandainya waktu itu ayahku mohon supaya anaknya tidak turut di ambil bersama ibunya, maka permohonannya tidak akan ditolak. Tetapi timbul pikiran ayahku, bahwa jika aku yang masih bayi dan sedang memerlukan air susu ibu dipisahkan dari ibunya, akan membawa akibat tidak baik bagiku. Maka dibiarkanlah aku turut bersama ibuku. Dalam hati ayahku bertekad untuk mendapatkan kembali anak dan istrinya.

Demikianlah aku turut dibawa ibu ke Tabanan, digendong dibawah terik matahari. Di banjar Taman kami beristirahat sebentar dan kala itu aku menangis meminta nasi. Ibuku tidak membawanya dan oleh karenannya terpaksa meminta sedikit dari orang di sana. Setelah nasi yang diperolehnya ku makan, perjalanan dilanjutkan lagi. Akhirnya tibalah kami di muka puri Kaleran. Lalu ipar ibuku menganjurkan kepada sang utusan, supaya ibuku dijual saja ke luar daerah, supaya tidak mungkin kembali lagi. Atas pertanyaan apakah ibuku mempunyai keluarga di Tabanan, ibuku lalu teringat kepada kenalannya di desa Jadi, bernama Nang Suken dan Men Suken. Berhubung hari sudah gelap, ibuku bersama aku dicarikan tempat penginapan di Malkangin di rumah Nang Puri, seorang petugas desa, selama duabelas hari. Kemudian kami di antar ke desa Jadi, di mana kami menumpang dirumah Nang Suken dan Men Suken, dekat perbatasan Kerajaan Tabanan.

Pada waktu itu Tabanan sedang bermusuhan dengan Mengwi. Sebelah timur desa Jadi terletak desa Kukuh yang dikuasai raja Mengwi. Nah disanalah, di desa Jadi, aku dipelihara ibuku penuh penderitaan oleh karena sering ditimpa penyakit. Kira-kira setengah bulan aku berada disana, penderitaan kami bertambah besar berhubung ibuku telah kehabisan bekal dan sudah terlalu sering meminta-minta.

Pada suatu pagi hari, aku digendong ibuku diajak mencari kayuapi dan daun-daunan untuk kemudian dijual di baleagung Jadi. Menggendong anak sambil bekerja sangat merepotkan ibuku, lalu aku diletakkan di atas lantai baleagung dan ditinggalkan mencari kayuapi dan daun-daunnan. Tiba-tiba suasana desa Jadi menjadi hiruk pikuk. Terdengar suara kentongan bertalu-talu. Ternyata desa Jadi diserbu musuh secara mendadak. Ibuku yang telah meninggalkan aku agak jauh bingung sebab teringat akan anaknya yang masing berada di baleagung. Musuh datang berbondong-bondong sambil bersorak sorai mengelilingi baleagung. Menangislah ibuku, khawatir kalau-kalau aku dilarikan musuh. Tatkala musuh mengundurkan diri, kembalilah ibuku dengan hati cemas ke baleagung. Syukur, berkat lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa, aku didapati masih dalam keadaan tidur nyenyak dibawah kolong dekat bantu sendi baleagung. Rupa-rupanya musuh tidak melihat aku ada disana. Cepat-cepat aku digendong kembali ketempat penginapan.

Berselang beberapa hari, datanglah seorang utusan dari Baginda Ratu di puri Kaleran untuk menjemput ibuku beserta aku guna dihadapkan kepada raja. Tiba di banjar Malkangin, kami dititipkan di rumahnya Nang Sasih, seorang abdi (perbekel) puri Kaleran. Sementara itu aku selalu dihinggapi bermacam-macam penyakit, badan kudisan penuh koreng-koreng, batuk - batuk disertai ingus selalu, sehingga badan menjadi kurus kering. Setiap orang yang melihatku merasa jijik dan menjauhkan diri.

Tersebutlah seorang petani bernama Nang Damuh dan Men Genjar, juga bertempat tinggal di Malkangin. Nang Damuh dan Men Genjar, mula-mulanya adalah seorang duda dan seorang janda yang kemudian menjadi suami istri. Itulah sebabnya kenapa masing-masing mempunyaisebutan lain. Dari perkawinan itu mereka tidak mempunyai anak, lalu mereka mengangkat seorang laki-laki dari Tuakilang bernama I Dugdug, menjadi anaknya yang syah (sentana). Namun I Dugdug ini adalah seorang pemalas yang sukanya hanya ngeluyur saja.

Nang Damuh yang sangat miskin dan tidak mempunyai apa-apa itu sangat kasihan melihat aku sakit-sakitan. Timbul pikirannya untuk menjadikan aku anak angkatnya. Lalu ia minta bantuannya Nang Sasih, supaya Nang Sasih sudi menyampaikan ke puri Kaleran tentang maksudnya untuk memohon aku dijadikan anaknya. Nang Sasih memenuhi permintaanya dan malam itu juga mereka menghadap Baginda Ratu di Kaleran. Setelah diterima dan selesai mengutarakan maksudnya Nang Damuh, lalu Baginda bersabda: "Hai kamu Nang Sasih dan Nang Damuh! Maksudku adalah untuk menjual orang perempuan itu, tetapi anaknya adalah tetap menjadi hak puri Kerambitan. Aku mendengar anak kecil itu dalam keadaan saki-sakitan dan kukira tidak akan hidup olehmu memeliharanya".
Hatur Nang Damuh: "Ya Tuanku Raja Penguasa Bumi. Bila Tuhan sudah menghendakinya tentu dia akan hidup, bila tidak biarlah dia mati. Hamba tidak akan menyesal".

"Hai kamu Nang Damuh. Permintaanmu kukabulkan. Semoga anak kecil itu panjang umur. Berilah ia nama I Wargi, supaya bertambahlah keluargamu dan kelak ada yang menggantikanmu dalam tugas-tugas di desa. Esok pagi pisahkanlah orang perempuan itu dari anaknya. Ibunya akan di serahkan kepada orang Bugis bernama I Regek di banjar Lebah untuk di antar ke Badungdan dijual di sana. Sedangkan anak kecil ituboleh kamu yang memeliharanya. Jadi esok malam, hai kamu Nang Damuh, datanglah kemari membawa "daksina" dengan "canang" dan tempurung hitam berisi air. Air itu akan kuberi mantraagar menjadi obat pemisah bagi bayi yang masih menyusu. Semoga berhasil kamu dalam memelihara bayi itu".

Dengan menjunjung tinggi segala kehendak baginda, Nang damuh lalu mohon permisi pulang. Tidak diceritakan lebih jauh keadaan dalam penginapan.

Pada hari yang telah di tentukan aku dipisahkan dari ibuku. Aku dibawa nang Damuh dan Men Genjar, sedangkan ibuku diserahkan kepada orang Bugis bernama I Regek untuk di antar ke kerajaan Badung dan kemudian di jual di kampung serangan. Yang membeli adalah seorang islam dari Serangan seharga dua butir opium (madat).

Konon aku yang ditinggal ibu menangis tiada hentinya, karena tiada mendapat air susu ibu. Maka pada malam harinya Nang Damuh cepat-cepat menghadap lagi ke puri Kaleran dengan membawa "daksina", "canang" beserta wangi-wangian dan tempurung hitam berisi air jernih, lengkap sebagai yang di titahkan Baginda Raja kemarinnya. Lalu sang Perabu dengan khidmat duduk menghadap ke timur memegang tempurung berisi air sambil bersemadi. Selesai semadi, tirta di serahkan di serahkan kepada Nang Damuh yang membawanya pulang ke Malkangin. Tiap kali aku menangis, aku di beri minum air suci itu dan bila air suci itu habis, dimintakannya dimintakannya lagi ke puri. Di samping itu aku di susui pula oleh Men Genjar, walaupun susunya tidak keluar air. Juga aku diberi air tape dan pisang manis yang selalu di campur dengan air suci pemberian raja tersebut di atas. Lambat laun aku tidak teringat lagi akan ayahbunda.

Kira-kira dua bulan berlalu, aku semakin lupa sama ibuku, tetapi aku tetap sakit-sakitan, batuk, pilek, kudisan dan koreng. Banyak orang memastikan, bahwa aku tidak akan lama hidup, berhubung penyakit yang bertumpuk-tumpuk pada diriku.

Diceritakanlah sekarang tentang ayahku yang telah bertemu muka dengan Nang Damuh. Beginilah pesan ayahku pada Nang Damuh: "Ya Nang Cening, peliharalah anakku di sini baik-baik. Jangan disia-siakan, jangan diberi "carikan" (sisa makanan), jangan dimaki-maki. Jika anakku beruntung dapat terus hidup, anggaplah dia sebagai anakmu sendiri, akan tetapi wangsa Prabaliku agar tetap dia pakai di sini di Malkangin. Kalau kurang makan, mintalah ke Belumbang padaku. Sementara ini aku akan terus berusaha mencari ibunya". Nang Damuh menyanggupi segala permintaan ayahku.

Lalu ayahku bersiap-siap untuk mengarungi lautan, naik jukung di pantai desa pasut dengan tujuan pantai Kuta-Badung. Tetapi rencananya tidak mendapat persetujuan dari lima saudara kandungnya laki-laki, sementara saudara perempuannya yang seorang diri dan bernama Men Semari menangisi ayahku tiada henti-hentinya. Kelima saudara ayahku yang laki-laki adalah: Pan Cerini, Pan Gunada, Pan Rani, Pan Rumana dan Pan Santa. Adapun Pan Cerini. Pan Gunada, Pan Rani sama-sama menjadi dukun, sedangkan Pan Rumana dan Pan Santa menjadi petani. Ayahku sendiri pengetahuannya hanya sekedar dapat membaca, akan tetapi tidak begitu menyenangi kesusastraan. Yang digemarinya adalah memelihara sapi, bekerja di sawah ataupun di ladang, berdiskusi dan di samping itu lincah mencari kawan. Pan Rumana dan Pan Santa bertempat tinggal di banjar Yeh Malet.

Syahdan ayahku lalu mencari dan mendapatkan kawan di desa Pandak Gede, bernama Pan Rata seorang kepala desa. Kawan lain diperolehnya di desa Abiantuwung, daerah perbatasan Tabanan-Mengwi, bernama Pan Kereb, juga kepala desa. Pada waktu itu Tabanan berseteru dengan Mengwi, sedangkan Mengwi berhubungan baik dengan Badung.

Maksud ayahku mencari-cari kawan tersebut, adalah supaya nanti ada yang menemaninya sewaktu menyusup dengan diam-diam ke Badung dalam usaha menemukan ibuku. Telah disepakati untuk memasuki daerah Badung, tetapi pelaksanaannya masih menunggu kira-kira tujuh hari lagi sambil mencari hari yang baik.

Konon ibuku telah dijual kepada seorang islam di Kampung Serangan dan di tempatkan di rumah panggung berhubung akan dijadikan istri si pembeli. Maksud ini ditolak keras oleh ibuku dan setelah tinggal di bale panggung selama kira-kira 25 hari, pada waktu malam terang bulan, timbul pikiran ibuku untuk melarikan diri. Bertingkah sebagai seorang gila, kimat-kamit sambil menyayat-nyayat kain, ibuku sempat sambil sembunyi-sembunyi menuruni rumah panggung tanpa diketahui orang lalu berjalan kearah baratlaut. Sepanjang jalan ia memanjatkan doa kehadapan Betara Widhi di Puseh Belumbang sambil "masasangi", seandainya berhasil mencapai desa Belumbang serta kembali kumpul sebagai suami istri dengan ayahku, akan menyelenggarakan "metani-a-luh" sekedarnya.

Semua orang dijumpai dalam perjalanan itu sama menjauhkan diri, sebaba mengira berhadapan dengan orang gila. Sampai di desa Dalung, bertemulah ia dengan seseorang yang mengetahui, bahwa segala tingkah laku sebagai orang gila itu hanya dibuat-buat saja. Ibuku ditahan dan esok paginya sesudah hari menjadi terang ibuku diusut. Oleh karena terdesak lalu ibuku mengaku terus terang, bahwa ia sebenarnya sedang melarikan diri. Tetapi sekiranya yang menahan itu sudi mengantar dan mempertemukan dengan suaminya, maka akan diberi uang imbalan sebanyak 25 ringgit. Orang dari Dalung itu setuju, lalu cepat-cepat naik kuda menuju desa Belumbang untuk bertemu dengan ayahku membicarakan soal ibuku.

Selesai pembicaraan, ayahku segera berangkat bersama tamunya menuju desa Abiantuwung. Orang dari Dalung itu meneruskan perjalanannya pulang ke Dalung. Hari sudah gelap. Esoknya bersama-sama Pan Kereb dari Abiantuwung, ayahku menunggu di pinggir sungai Sungi sebelah barat desa Dakdakan, daerah tempat berperang.
Tatkala matahari berada di puncaknya, ibuku datang diantar oleh orang Dalung dimaksud, lalu ayahku menyerahkan uang sebanyak 25 ringgit kepadanya. Ibuku dan ayahku segera meninggalkan sungai Sungi lalu minta perlindungan serta mengabdikan diri pada I Gusti Ngurah Anom di Puri Agung Kerambitan. Mereka menumpang di Jero Banjar pada Anak Agung Putu, oleh karena memang menjadi bawahan Jero Banjar. Maksud tinggal di sana adalah oleh karena takut dikejar oleh orang islam dari kampung Serangan.

Setelah berselang kira-kira dua bulan, rasa rindu ayahbundaku terhadap diriku bertambah-tambah. Lalu ayahku memberanikan diri menghadap dan mohon kepada I Gusti Ngurah Anom, kiranya beliau suka membicarakan dan minta kembali diriku dari yang berkuasa di puri Kaleran. Permohonannya dipenuhi dan pada suatu hari, diiringi oleh I Gusti Putu dari jero Banjar dan ayahku sendiri, beliau datang ke puri Kaleran untuk mengadakan pembicaraan dengan yang berwenang di sana. Pokok pembicaraan antara I Gusti Ngurah Anom dan baginda di puri Kaleran adalah agar aku diijinkan kembali kumpul dengan ayah dan ibu dan selanjutnya menjadi kaulanya I Gusti Ngurah Anom. Tetapi sayang Baginda Ratu tidak menyetujui pemulanganku, sebab adanya aku dapat hidup terus, adalah berkat kemanjuran air suci yang beliau anugerahkan kepadaku. Jadi aku ini seakan-akan sudah menjadi milik beliau pribadi, tetapi dititipkan di Malkangin. Seandainya nanti aku beruntung dapat hidup lama, maka tidak ada halangan bila I Gusti Ngurah Anom turut memiliki aku. Lagi pula jika I Gusti Ngurah Anom ingin mendapatkan orang dari desa Belumbang, banyak pula kaula puri Kaleran adadi sana. Berapa saja keluarga yang dikehendaki I Gusti Ngurah Anom, Baginda Ratu tidak akan berkeberatan.

Ada juga pesan beliau pada ayahku, supaya ayahku jangan bersusuah hati dengan adanya aku tinggal di Malkangin. Semoga ayahku tetap memiliki aku untuk selama-lamanya dan aku tetap pula menjadi kaula puri Kaleran.

Demikianlah kata-kata Baginda Ratu dari puri Kaleran kepada I Gusti Ngurah Anom yang dengan tangan hampa kembali pulang ke puri Kerambitan diiringi oleh I Gusti Putu dari jero Banjar dan ayahku.
Namun ayahku tidak putus asa dan tidak mengendor usahanya untuk mendapatkan aku kembali sehingga dapat berkumpul lagi dengan ayahbundaku, berselang 25 hari, ayahku ingat dengan kawan akrabnya, seorang ahli obat-obatan yang seringke puri Tabanan, bernama I Dewa Kompiang bertempat tinggal di desa Samsam. Dialah lagi yang dimintai bantuannya, agar sudi diajak menghadap ke puri Kaleran guna membebaskan aku. Jika berhasil, ayahku bersedia mempersembahkan uang kepada Baginda Ratu sebanyak 200.000 sebagai penebus diriku.

Akhirnya I Dewa Kompiang bersedia memenuhi permintaan ayahku. Maka pada suatu hari yang baik, berangkatlah I Dewa Kompiang diiringi ayahku menghadap Baginda Ratu di Puri Kaleran. Hatur I Dewa Kompiang: "Ya Paduka Tuanku, bila tuanku berkenan mengembalikan anak dari kawan hamba asal Belumbang, yang Paduka Tuanku telah ambil dan tempatkan di Malkangin, maka kawan hamba itu akan mempersembahkan uang pembeli sirih sebanyak 200.000"

Baginda diam sejenak lalu bersabda: "Oh Bapa Kompiang, bersalahlah aku bila aku sekarang mengijinkannya, sedangkan permintaan yang sama dari Ida I Gusti Ngurah Anom dari Kerambitan aku telah tolak. Bila permintaan Bapa aku penuhi, maka seakan-akan aku lebih sayang kepada Bapa dari pada I Gusti Ngurah Anom. Lagi pula akulah yang mengobati si anak dan sekarang katanya sudah tidak ingat lagi kepada ibunya. Harap Bapa jangan berkecil hati berhubung permintaan Bapa tidak terpenuhi. Dan kau yang dari Belumbang, janganlah kamu sakit hati. Akulah yang menaruh anakmu di Malkangin dan biarlah dia di sana. Jika dia beruntung panjang umur, kamulah yang memilikinya. Dan bila sewaktu-waktu kamu ke Tabanan adalah yang kamu jenguk". Demikianlah kata-kata Baginda Ratu dari puri Kaleran. Dengan tangan hampa I Dewa Kompiang serta ayahku permisi pulang ke Samsam dan ke Belumbang.

Begitulah kurang lebih cerita orang tuaku mengenai asal mulanya aku bertempat tinggal di Malkangin.
Namun orang tuaku konon sering-sering menengok aku sambil membawa bekal beras, padi, nasi maupun uang. Aku tetap menderita bermacam-macam penyakit sebagai batuk, koreng, kudis, sehingga tetap kurus. Sedikit orang mengira bahwa aku dapat hidup terus, berhubung aku tak henti-hentinya diserang penyakit. Berkat rahmat Ida Sanghyang Widhi Wasa aku masih bertahan hidup.

Lama-lama ingatanku mulai berkembang. Aku disayang oleh Nang Damuh dan Men Genjar yang sering menceritakan, bahwa aku sebenarnya kelahiran Belumbang. Kalau aku tidak mendengar dari lain orang, aku mengira bahwa aku ini memang lahir di Malkangin. Menyadari, bahwa aku ini seorang pendatang, aku selalu menahan perasaan bila aku sakit atau dihina orang. Dan aku sadar pula, bahwa aku diasuh oleh Nang Damuh dan Men Genjar.

Ada lagi petuah ayahku, agar aku tetap mempunyai harga diri, tidak mau diberi sisa makanan oleh orang lain, sebab ayahku adalah tergolong orang prabali dan oleh karena itu aku harus tetap memakai gelar Prabali Bendesa sebagai ayahku. Aku masih ingat betuk akan pesan ayahku ini. Insaf akan nasib yang malang, aku selalu merendahkan diri dan tidak pernah berbuat angkuh. Aku disuruh ayah belajar membaca dan menulis, sekedar untuk dapat mempertahankan wangsa keprabalian. Makin lama makin terang ingatanku. Aku senang belajar dan aku mulai mengenal satu dua huruf Bali, itupun kuperoleh dari tetangga-tetangga. Masih ingat aku diasuh oleh Nang Damuh, diajarkan bertani dan berkebun. Disamping itu aku terus juga belajar kesusastraan. Kepada merekalah, yaitu Nang Damuh dan Men Genjar aku minta makan dan minum. Tetapi mereka itu sangat miskin, mempunyai sawah yang dapat menghasilkan 6 pikul (tegen) dan padinya pun sering rusak. Sawah itu terletak di pinggir Yeh Dikis. Selanjutnya tegalan seluas kira-kira 10 depa persegi berdampingan dengan sawah tersebut dan tanah pekarangan yang letaknya miring ditepi jurang. Untuk menyambung hidupnya kedua orang tersebut sering menjual kayu api atau daun pisang yang hasilnya dibelikan nasi di pasar. Ada kalanya hasil kebunnya ditukar dengan barang yang diperlukan, juga tidak jarang memburuh menebuk padi. Pendek kata mereka lalu hidup dalam keadaan kekurangan.

Masih segar dalam ingatanku, bahwa suatu ketika Nang damuh ada maksud untuk mengadakan upacara "nymbutin" serta menjadikan anak angkat yang sah. Maka ia mendatangi ayahku di Belumbang untuk mendapatkan sekedar pembiayaan. Tetapi niatnya tidak mendapat persetujuan ayahku, sebab ayahku khawatir dengan demikian aku akan kehilangan wangsa Prabali. Maka dari itu aku lalu dibuatkan upacara "nyambutin" di Belumbang oleh ayahbundaku.

Yang bernama I Dugdug dari Tuakilang, katanya lebih dahulu dari aku dibuatkan upacara pengesahan. Nang Damuh mendapatkan dia atas permintaannya kepada Ida Cokorda Agung di puri Agung, sewaktu Nang damuh baru saja kawin dengan Men Damuh dari Tuakilang. I Dugdug memang kaula puri Agung, lahir di Tuakilang, tidak jelas siapa ayahnya, sedangkan ibunya bersaudara dengan Men Damuh. Oleh karena ia ikut Men Damuh ke Malkangin, lalu disahkan menjadi anak angkat; maka resmilah ia menjadi keturunan Nang Damuh dan Men Damuh. Menurut ingatanku I Dugdug tidak dapat menyesuaikan diri dengan Nang Damuh, maka kuranglah sayangnya Nang Damuh terhadap dirinya.

Aku tidak lupa akan kebaikan Nang Damuh dan Men Genjar. Aku benar-benar berhutang jiwa kepadanya, eakan-akan merekalah yang melahirkan aku. Oleh karena itu, kemudian aku membayar hutangku dengan jalan melaksanakan upacara "ngaben" bagi mereka itu disertai menyembah satu kali.

Tatkala aku berumur kira-kira 20 tahun, mulailah aku mengabdi kepada Raja di puri Kaleran yang kemudian wafat tertikam di Badung. Setelah beberapa lama menjadi abdi raja, banyak orang mulai mentertawakan aku, oleh karena aku ini orang kecil tanpa wibawa. Namun aku gemar belajar menulis. Syukur aku kemudian diangkat menjadi kanca semacam juru tulis jaman itu. Makin lama makin berat rasanya menjadi kanca. Di Tabanan maupun di luarnya aku mulai mengenal para bangsawan, besar dan kecil. Sering pula aku diutus ke luar kerajaan: ke Mengwi, ke Badung, ke Ubud, ke Gianyar, ke Klungkung, ke Bangli, ke Buleleng. Tidak jarang pula aku diusir kalau berbuat salah. Ada yang menyanjung ada pula yang menyesalkan diriku. Acap kali aku difitnah oeleh orang yang menganggap aku orang bodoh tetapi berlagak pintar. Dimarahi para pembesar pun sudah menjadi biasa, sehingga kadang-kadang aku merasa kecewa setelah berpayah-payah lalu mendapat perlakuan kurang wajar. Tetapi aku berjalan terus sambil belajar, sekalipun diejek, ditertawai orang. Biar diancam bagaimanapun, aku tetap melakukan tugasku sebagai seorang abdi dengan segala suka dukanya. Hanya saja aku membela apa yang menurut keyakinanku benar. Kalaupun aku harus mati dalam melakukan tugas, aku tidak akan mundur, sebab dengan demikian seakan-akan aku akan menemui sorga. Aku menjadi abdi raja, tetapi di samping itu aku juga bekerja di sawah, hanya saja sawah itu milik orang lain (nandu).

Catatan beberapa peristiwa penting.

Baik untuk diingat, tatkala penulis disuruh oleh raja yang sedang bertakhta mengabdikan diri di Semarapura selama 15 hari, dengan menginap di banjar Lebah di rumahnya I Ketut Lebah. Persahabatan yang sangat akrab dengan oknum tersebut sudah terjalin sejak lima tahun, yaitu sejak tahun isaka 1820 (1898 M.), sewaktu penulis dianugrahi sebilah keris yang bernama I Kuta oleh Ida Batara Dalem yang bersemayam di puri Agung Klungkung. Setelah itu penulis sering pula pergi ke Kelungkung.

Nah, pada waktu mengabdi di Kelungkung pada tahun isaka 1825 (1903 M.) penulis sudah memakai keris hadiah Batara Dalem. Selama di Kelungkung, penulis sering berkunjung ke geria Pidada untuk mempelajari soal isaka dan pengetahuan yang diperolehnya lalu diperbincangkan di Tabanan, benar-benar dirintis oleh penulis sendiri.
Pada tahun 1815 (1893 M.) terjadilah gempa bumi di Bali selama kira-kira 17 hari, siang malam.

Beginilah bunyi salinan surat dari Kelungkung, waktu dianugerahi keris. "Peringatan. Keris ini yang bernama I Kuta, adalah anugerah Ida Batara Cokorda Ida Idewa Agung, bersemayam di puri Agung Kelungkung, dihadiahkan kepada I Gede Wargi, abdi dalem puri Agung Kaleran Tabanan, namun diperkenankan juga untuk diwariskan kepada para keturunan I Gede Wargi. Semoga keris ini dengan rakhmat Ida Sanghyang Widhi Wasa memberi keselamatan dan kebahagiaan kepada seluruh keturunan sampai akhir jaman. Ditetapkan pada hari Buda, Pon, Pujut, titi, pang, ping 5, sasih ka, 2, rah, 2, seng 1, isaka 1822 (1900M.)"

Demikian bunyi surat panugraha dari Kelungkung sebagai lampiran dari keris dimaksud.
Nah, kamu keturunanku sekalian, pakailah keris itu sebagai senjata penyelamat rumah, penyelamat jiwa, sekalipun rupanya buruk. Jangan dijual, jangan digadaikan, sebab keris itu adalah anugerah Dalem.
Keris yang berbentuk "eluk santa" dengan banyak pamornya, adalah anugerah Baginda Ratu di puri Kaleran, sewaktu penulis menjadi abdi dalem di sana dan mulai belajar "maselet".

Catatan tentang kalah dan rusaknya kerajaan Mengwi digempur oleh Badung dan Tabanan, kalau tidak salah adalah pada tahun isaka 1819 (1897 M.)
Kalahnya kerajaan Badung diserbu oleh Belanda adalah pada tahun isaka 1828 (1906 M.) dan wafatnya Cokorda Badung pada hari Kamis Kliwon, Ukir.
Tabanan dimasuki oleh tentara Belanda pada hari Rebo, Umanis Kulantir isaka Bali sebagai tersebut diatas, tahun Belanda 1906.

Mula-mula para soldadu turun menyerang Sanur pada hari Kemis, Pon, Landep, isaka sebagai di atas.
Sebagai peringtan sepanjang masa tentang hari "dewasaning anembakuh" lumbung, yaitu pada hari Kemis, Pon, Menail, titi suklapaksa, astami, badrawada masa, sadludira, trimurda, isaka kala 1836. kalau menurut penanggalan Belanda tanggal 1 bulan Agustus tahun 1914.

Selesai "manembakuh" disusul dengan "melaspas" yang diselenggarakan oleh yang terhormat Pedanda Anom Dangin pada hari Paing, Buda, Wayang, titi suklapaksa pancami, masa asuji, sadswanita, trigriwa, isaka sebagai diatas. Malamnya terjadi gempa bumi besar, yaitu pada tanggal 16 agustus 1914.

Kalian keturunanku, wajib kamu memelihara lumbung itu dengan sebaik-baiknya, oleh karena jarang sekali ada hari baik sebagai tersebut diatas. Semoga kamu keturunanku panjang umur, mudah mencari padi supaya lumbung itu selalu penuh.

Ada lagi peristiwa yang pelu dicatat. Dahulu pada hari minggu, Umanis, Ukir, pang, ping 14, sasih ka 7, rah 8, teng 3, isaka warsa 1838, atau menurut penanggalan Belanda 21 Januari 1917, jam 7 pagi, penulis bersama I Gede Subrata berada di perempatan banjar Anyar bersiap-siap untuk berburu burung. Tiba-tiba terjadai gempa bumi besar, selama setengah menit yang amat dahsyat. Tembok, pintu rubuh, rumah, lumbung, sanggah semua rebah, pokoknya tidak ada bangunan yang masih berdiri. Manusia banyak yang mati atau luka-luka, dukalara tersebar di mana-mana. Goncangan yang hebat terjadi hanya sekali saja, tetapi disusul getaran-getaran yang semakin melemah sampai 7 hari lamanya.

I Gede Dibiya sedang bersekolah di Lawang, Jawa. Demikian hal tersebut dicatat sekedar untuk dimaklumi.
Dan hal berikut ini perlu diingat dan dihayati oleh kita semuanya untuk selama-lamanya. Tetaplah beragama Tirta (Hindu Dharma) dan tentang "Sanggar Gede" dapat dicatat sebagai berikut.
Mula-mula asa "Sanggar Gedong" hanya sebuah. Katanya itu tempat bagi Batara Widhi Sakti di pura Desa Abiansemal dan Batara Widhi Sakti di pura Puseh Abiansemal. Atas kehendak "Batara" supaya tempatnya berlainan, lalu dibuatkan pelinggih untuk Batara Widhi Sakti di Puseh Abiansemal, yaitu palinggih "Padma" dari batu paras.
Kemudian membuat lagi "Sanggar Gedong" pasimpangan Batara Widhi Sakti di Pura Dalem Petingan Penarukan dengan hari piodalan yang berbeda-beda. Palinggih kedua "Batara" dari Abiansemal pada hari Buda, Kliwon, Pahang, sedangkan "Batara" dari pura Dalem Petingan Penarukan pada hari Anggara, Kliwon, Medangsia. Pada waktu gempa besar, semuanya rubuh. Lalu dipindah dan dibuat sanggar baru, dengan membangun kembalisemua pelingih tersebut di atas. Di samping itu dibuat pula palinggih pasimpangan dari Lalanglinggah, penyungsungan I Bendesa Gading Wani, hingga palinggih besarnya menjadi ampat.

Yang paling utara dan "mabanjah", adalah palinggih Batara I Ratu Gede Sakti ring Luwur Gading Wani. Sebelah selatannya, palinggih gedong, palinggih Batara Sakti di pura Dalem Petingan Penarukan, memang penyungsungan dari rumah di Belumbang. Sebelah selatannya, gedong palinggih Batara di pura Desa Abiansemal. Sebelah selatannya lagi, palinggih paras padma, palinggih Batara Widhi Puseh Abiansemal, yang memang sejak semula ada di sini. Palinggih di pura luwur Gading Wani, piodalan pada hari Buda, Wage, Kelawu (?).
Oleh karena hari piodalannya sama-sama lain, maka agak repot juga penyelenggaraannya. Pada waktu musim paceklik besar, berasa nasi serba kurang, timbul pikiran untuk melakukan upacara "melaspas ageng" oleh karena sudah lengkap ada palinggih.

Dimulai dengan "ngaturang karya" pada hari Kamis, Paing, Tambir. Kori dipelaspas pada hari Jumat, Pon, Tambir.
"Mamendak Batara" ke Abiansemal, ke Penarukan, ke Lalanglinggah. "Mendak arca" ke geria Pasekan.
"Ngaturang caru mapanca sanak", "ngawugang pedagingan" di bawa semua palinggih, dilaksanakan oleh Ida Pedanda Made Paket dari geria Pasekan, diiringi oleh Ida Bagus Ketut Dangincarik, disertai I Mangku Dalem Tabanan Nang Tengah.

Esoknya pada hari Sabtu, Wage, Tambir, tang, ping 15, sasih ka 10, rah 2, teng 4, isaka 1842 (1920 M.) di lanjutkan dengan "melaspas ageng ngentegang linggih" sebagai "matanialuh ngebekin"' dilaksanakan oleh Pedanda Agung dari geria Pasekan, disertai I Mangku Dalem tersebut diatas dan para mangku lainnya, laki perempuan, semuanya "tedun" pada malam harinya.
I Mangku Dalem Tabanan "tedun" sambil memohon kepada Batara Widhi, supaya diperkenankan sekali saja mengadakan piodalan di sanggar gede, yaitu piodalan kecil menurut kemampuan, oleh karena merasa seorang diri saja yang "nyungsung".

Sabda Widhi melalui I Mangku, memperkenankan melakukan piodalan pada hari "purnamaning sasih kadasa", tiap tahun, berhubung selesainya "ngaturang karya melaspas" juga pada hari "purnamaning kadasa".
Hal tersebut perlu diingat sepanjang masa.
Untuk dimaklumi nama-nama palinggih di Sanggah Gede adalah sebagai berikut.

Baris Timur (dari Selatan ke Utara)
1. Paling selatan, "sanggah Kamulan", pecahan "kamula" dari rumah Belumbang.
2. Sebelah utaranya, "palinggih Mundaksari".
3. Sebelah utaranya lagi, "palinggih Padma" palinggih Batara Puseh Abiansemal, yang sejak dahulu memang ada di sini.
4. Selanjutnya "palinggih gedong" yang memakai dua tiang cendana di hulu, palinggih Batara pura Desa Abiansemal, juga sejak dahulu ada di sini.
5. Kemudian lagi "gedong" dengan dua tiang cendana, palinggih Batara pura Dalem Petingan Penarukan, berasal dari Belumbang.
6. Menyusul "gedong mabanjah" memakai 4 tiang cendana, palinggih I Ratu Gede Sakti di pura Gading Wani Lalanglinggah, memang "penyungsungan" I Bandesa Gading Wani sejak dulu. "Canang" yang dipersembahkan di sini tidak boleh merah. Bunganya harus putih kuning, begitu pula dengan kainnya.
7. Palinggih yang dipojok timur-laut, adalah "pasimpangan Gunung Agung"

Baris Utara (dari Timur ke Barat)
8. Sebelah barat pasimpangan Gunung Agung adalah "sanggah catu" palingih Batara Sri.
9. Selanjutnya "palinggih Pasaren".
10. Kemudian palinggih Ratu Rabutsedana dan Manikgalih, berisi dua arca dari uang kepeng buatan Berahmana dari Kaba-kaba.
11. Taksu.
12. Menyusul batu kecil dan rendah, palinggih "Batu Aya"
13. Dan paling barat, "tugu paras"' pasimpangan I Ratu Gede Karang Suwung dan I Ratu Dalem Gumi serta I Ratu Penunggu Karang.
Demikian hasil pembicaraan para Mangku.
14. Di tengah-tengah terdapat "Manjangan Saluang".
(lihat lampiran I)

Dalam tahun isaka 1839 (1917 M.) dilaksanakan upacara "memakuh" Bale Agung di Puseh Bedaha dan pada waktu itu penulis mengaturkan sebuah "lahit" (pasak) cendana untuk dipergunakan di bagian timur-laut.
Pada hari Kemis, Kliwon, Merakih, tang.ping 15, sasih ka 6, rah 3, teng.4, isaka 1843 (1921 M.) di kota Tabanan diadakan upacara "amakuh" meru di Puseh Bale Agung, palinggih di pura Dalem. Penulis juga mempersembahkan "lahit" cendana pada palinggih di Dalem 2 buah, pada meru di Puseh 2 buah dan pada Bale Agung 2 buah. Itu sebagai tanda bakti kepada "Widhi" semuanya.

Disini dicatat pula kunjungan Ida Anak Agung Bagus Jelantik yang berpangkat "Stedehouder" (semacam walikota) dari puri Agung Karangasem ke rumah penulis di Malkangin pada hari Rebo, Kliwon, Dungulan, tang.ping 13, sasih ka 4, teng 3, isaka 1843, atau menurut penanggalan Belanda 10 Oktober 1921. itu merupakan suatu kehormatan bagi penulis, "parekan" beliau dari jauh. Beliau disertai Pedanda Putu Cawu dari Karangasem dan sipersilahkan duduk di bale Singasari.

Sorenya datang Pedanda Made Jaksa dari geria Pasekan dan Pedanda Anom dari geria Teges disertai para Agung semuanya dari kota Tabanan. Maksudnya untuk mempersilahkan Anak Agung Bagus Jelantik beristirahat di puri Anom. Itu memang terjadi, tetapi maksud Anak Agung Bagus Jelantik untuk esoknya melakukan "atirta yatra" ke danau Beratan tidak dapat terlaksana, berhubung beliau jatuh sakit hingga terpaksa kembali pulang.
Dapat diterangkan, bahwa penulis mula-mula berpangkat Jaksa, bertepatan dengan lahirnya I Gede Pangkat. Pada hari Rebo, Wage, Menahil, titi suklapaksa, ping 1, sasih ka 9, rah, windu, tenag 3, isaka 1830, penulis diangkat sebagai jaksa (hakim) bersama-sama dua Pedanda. Menurut penanggalan Belanda 1 april 1908. (sebenarnya 1 Mei 1908, lihat lampiran II).

I Gede Subrata pergi ke Lalanglinggah untuk mulai menanam kelapa. I Gede Pangkat pergi ke Pucang untuk menyelesaikan penanamkan kelapa. Penulis sendiri menanam kelapa "puwuh" di rumah di banjar Anyar, menanam jeruk di halaman rumah banjar Anyar, menanam kelapa "bejulit", kelapa "sudamala", kelapa "mulung", "nyudah udang" di tegalan sebelah utara rumah di Malkangin. Semuanya itu bersamaan pada hari Kemis, Kliwon, Medangkungan, tang. Ping 1, sasih ka 6, rah 3, teng 4, isaka 1843 (1921 M.)
Catatan mengenai "masiwa" kepada Berahmana. Rumah di Belumbang memang sejak dahulu "masiwa" ke gria Tatandan. Sebabnya sekarang "masiwa" ke geria Dangin Carik, beginilah asal muasalnya.
Dahulu pada tahun isaka 1830 (1908 M.) dilakukan upacara "ngaben" di rumah Belumbang. Yang di "aben" adalah ayah penulis, Nang Damuh, Men Genjar, Dadong Genjar, I Dugdug. Dibuatlah dua "wadah" dan penulislah (I Gede Wayan Wargi) sebagai penyelenggara tunggal. "Wadah" ayah penulis adalah "Padmasana" sebagaimana sejak dahulu kala, sedangkan "wadah" Nang Damuh "Sigarmangsi". Ada dua Pedanda yang melakukan upacara, yaitu Pedanda geria Pasekan, atas permintaan Ida Ayu Tatandan, dan Pedanda Geria Dangin Carik untuk "muputang ngentas" Nang Damuh. Kedua macam pekerjaan itu dapat penulis sendirian selenggarakan sebagai mana mestinya.
Selesai pekerjaan, penulis mulai berpikir-pikir. Oleh karena penulis tinggal di Malkangin, mungkin penulis disangka sudah syah menjadi "sentana" di Malkangin oleh Pedanda Dangin Carik. Tambahan pula penulis sejak kecil sering ke geria Dangin Carik untuk minta "tirta" maupun "dewasa". Juga pernah "mawinten" di geria Dangin Carik, mengundang Pedanda untuk melakukan bermacam-macam upacara di Malkangin, berhubung pada waktu itu di Tatandan tidak ada Pedanda, hanya ada Dayu yang masih muda dan dikawini secara "sentana" oleh Ida Bagus dari geria Pasekan.

Berhubung penulis hanya seorang diri, maka lama-lama agak berat juga "masiwa" di dua tempat. Oleh karena itu, penulis mengundang Pedanda Dangin Carik, Dayu di Tantandan beserta Ida Bagusnya, Pedanda Made Paket dari geria Pasekan untuk bersama-sama menghadap Ida Pedanda Agung di geria Pasekan untuk bersama-sama menghadap Ida Pedanda Agung di geria Gede di Pasekan. Setibanya di sana dan berhadapan dengan Pedanda Agung, penulis lalu berbicara di muka hadirin, menguraikan dan menjelaskan tentang hal ikhwal penulis, sehingga sampai bertempat tinggal di Malkaingin. Berhubung itu, supaya Pedanda Made Paket maupun Pedanda Agung sudi mempertimbangkan dan memastikan ke mana harusnya penulis dan keturunannya "mesiwa".bila Ida Pedanda agung dan Pedanda Made telah menentukan, maka penulis akan menurut saja. Keputusan Pedanda agung dan Pedanda Made adalah sepatutnya penulis "masiwa" ke Dangin Carik, sekalipun penulis bukan "sentanan" Nang Damuh, tetapi tanah pekarangan di Malkangin yang penulis tempati, memang "masiwa" ke Dangin Carik. Lagi pula penulis sejak kecil sudah sering mohon "tirta" ke Dangin Carik. Sedangkan di rumah penulis di Belumbang, masih banyak orang yang tetap "masiwa" ke Tatandan.

Demikian keputusan Pedanda Agung dan Pedanda Made Paket, lalu kedua Pedanda berbicara dengan dayu dari Tatandan, supaya Dayu jangan kesal dengan diserahkannya penulis "masiwa" ke Dangin Carik. Dayu tidak menaruh keberatan apapun dan dengan rela menyerahkan penulis dan semua keturunanya untuk "masiwa" ke Dangin Carik.
Pedanda Dangin Carik menerima penulis disertai ucapan semoga penulis serta semua keturunannya selalu mendapat keselamatan sampai akhir jaman. Alangkah senang hati penulis serta berterimakasih kepada Dayu dari Tatandan yang telah berbalik hati memperkenankan penulis "masiwa" ke Dangin Carik.
Catatan mengenai pendirian rumah gedung di banjar Anyar. (sudah tidak ada lagi dan diganti bangunan baru) Dimulai dengan upacara "namakuh" pada hari Kemis, Pon, Uye, tang ping 5, sasih ka 1, rah 3, teng 4, isaka 1843 (1921 M.).

Upacara "melaspas", "macaru resigana", "namakuh" lumbung dan dapur serta menempati rumah pada hari Jumat, Paing Pahang, tang ping 6, sasih ka 1, rah 4, teng 4, isaka 1844 atau menurut penanggalan Belanda 1 Juli 1922. yang melakukan "caru" maupun "melaspas" adalah Ida Pedanda Agung di geria Pasekan. Rumah itu menghabiskan biaya sebagai berikut: Untuk pembeli pohon-pohonan yang dipotong di pekarangan itu: 12 ringgit. Upah untuk meratakan tanah, membuat tembok di sebelah barat rumah, membuat pagar, membuat telaga: 50 ringgit. Biaya keseluruhannya, rumah, dapur, lumbung sampai pembeli makanan, upah tenaga kerja, berjumlah kurang lebih 500 ringgit.

Pada hari Sabtu, Wsge, Kulantir, tang pimg 10, sasih ka 5, rah 4, teng 4, isaka 1844 atau menurut penaggalan Belanda 30 Oktober 1922, Ida Anank Agung Jelantik, yang berpangkat "stedehouder" di uri Agung Karangasem, mengadakan kerja adat potong gigi untuk beliau sendiri.
Penulis diundang untuk turut menyaksikan upacara tersebut diiringi oleh seorang yang bernama I Gembor. Sampai di puri Karangasem penulis sangat kagum melihat betapa indahnya pakaian raja termasuk yang bersemayam di puri "Emastradam" (Masterdam), dikelilingi oleh para pendeta laki perempuan yang jumlahnya tidak kurang dari 150 orang. Di antara para undangan banyak terdapat bangsawan-bangsawan, pembesar-pembesar setempat, pemuka-pemuka rakyat. Juga hadir tamu-tamu Belanda beserta nyonya, semuanya pembesar-pembesar sebagai Tuan Asisten dan lain-lain. Tampak pula Anak Agung ynag tua dari Sasak yang dibuang oleh Belanda ke Betawi-Bogor. Para istri dan anak-anak tidak terhitung banyaknya.

Suasana rasanya sebagai dalam sorga. Semuanya serba gemerlap, baik pakaian maupun perhiasan. Para pendeta terus menerus memanjatkan mantera-mantera pujaan. Para tamu disuguhi bermacam-macam hidangan. Suara bedil, gong, tambur tiada henti-hentinya. Gambuh, legong, tupeng, wayang, gender, semuanya beraksi.
Terhadap diri penulis, sang Raja sangat menaruh perhatian. Disamping makanan yang mewah, juga tegur sapa beliau yang manis. Penulis tidak diijinkan seketika pulang. Esok malamnya penulis menghadap raja untuk mohon diri pulang ke Tabanan. Pada waktu itu, Raja yang baik budi menghadiahkan kepada penulis sebilah keris bersarung kayu pelet "malandehan bebed babondolan". Keris itu yangbernama I Semara Tantra, diberikan sebagai kenang-kenangan, bukti persahabatn kepada seorang abdi yang bertempat tinggal jauh. Juga dimaksud agar keris itu nanti dapat diwariskan kepada keturunan penulis. Esok paginya penulis kembali pulang ke Tabanan.
Nah kamu semua anakku dan keturunan ayah, peliharalah keris hadiah itu sebaik-baiknya. Sekalipun keris itu mungkin ada cacadnya, jangan sekali dibuang, jangan dijual, jangan digadaikan, jangan diberi orang lain, kecuali keturunan ayah. Pakailah senjata utama itu untuk menjaga rumah, membela diri, sebab itu adalah hadiah seorang Raja yang arif bijaksana, yang dihormati dan dijunjung tinggi oleh rakyatnya.
Selanjutnya kamu harus ingat selalu, bahwa pemberian tersebut adalah suatu kehormatan besar bagi ayahmu dan oleh karena itu kamu harus tetap hormat kepada Raja tersebut maupun kepada keturunan beliau.